Rabu, 25 Februari 2015

Proses pengolahan bijih besi, hematit, pyrit, chalcopyrit dan pasir besi menjadi besi murni atau sponge iron

Brobro, kali inni kite mau ngebahas soal pengoalahan bijih besi menjadi konsentrat besi sampai ke pembuatan baja, stanles steel, produk garpu dan sendok sampe pembuatan besi tulangan nihh..
Setelah bertahun2 negara kite dijajah para penguasa asing yang dengan mudahnya menjual sumberdaya indonesia hanya dengan mengeruk, mengumpulkan dan mengeksport tanah-tanah yang mengandung besi yang bisa disebut sbg bijih besi dengan harga tinggi diimbangi dengan royalti yang rendah akhirnya pemerintah memutuskan untuk pembatasn eksport untuk bahan galian mentah alias bahan galian tsb harus diolah dibumi indonesia menjadi logam murni baru boleh dijual sebagai bahan eksport.
Tentunya banyak pengusaha bermata sipit kebanyakan  lebih baik memilih melarikandiri daripada mereka harus berinvestasi lebih diindonesia dan ditambah lubanglubang bekas galian yang dibiarkan begitu saja oleh mereka tentunya dan berkata dalam benaknya "lubang besar nan berair warna itu untuk cucu anak kalian yaa indonesia ane mau pipis dulu dilumahh..dadada"
Yah paling tidak sudah ada kemampuan pemerintah untuk melindungi bangsa ini broh, dan dampaknya apa setelah peraturan pelarangan eksport itu mulai diterapkan??
ya jelas harga bijih besi, biji mangan, bijih nikel melambung tinggi karena indonesia merupakan perodusen yang aman diandalkan mereka para eksportie cina dan indonesia menjadi negara yang patut diperhitungkan dalam berinvestasi dimasa depan.


PENGERTIAN UMUM BESI
        Pasir besi terdiri dari mineral opak yang bercampur dengan butiran-butiran dari mineral non logam seperti, kuarsa, kalsit, feldspar, ampibol, piroksen, biotit, dan tourmalin. mineral tersebut terdiri dari magnetit, titaniferous magnetit, ilmenit, limonit, dan hematit, Titaniferous magnetit adalah bagian yang cukup penting merupakan ubahan dari magnetit dan ilmenit. Mineral bijih pasir besi terutama berasal dari batuan basaltik dan andesitik volkanik. Kegunaannya pasir besi ini selain untuk industri logam besi juga telah banyak dimanfaatkan pada industri semen.
       Di dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia disebutkan bahwa pasir besi adalah biji laterit dengan kandungan pokok berupa mineral oksida besi. Pasir besi biasanya mengandung juga beberapa mineral oksida logam lain, seperti vanadium, titanium, dan krominum, dalam jumlah kecil.Pasir yang mengandung biji besi ini adalah bahan galian yang mengandung mineral besi, yang dapat digunakan secara ekonomis sebagai bahan baku pembuatan besi logam atau baja. Persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah kandungan Fe-nya harus lebih dari 51,5 %.


PENAMBANGAN PASIR BESI DAN BIJIH BESI

Pertambangan bijih besi dimulai di permukaan tanah. Taconite adalah diidentifikasi oleh sampel inti berlian pengeboran pada grid ratusan meter ke dalam bumi. Taconite batu terdiri dari sekitar 28 persen besi, sisanya adalah pasir atau silika. Sampel ini dianalisa dan dikategorikan sehingga
bahwa insinyur pertambangan secara akurat dapat mengembangkan area tambang Rencana.
Untuk mengungkap cadangan taconite, daerah tambang adalah pertama "Dilucuti" dari drift overburden atau glasial, terutama terdiri dari batuan, tanah liat dan kerikil. Itu
overburden dimuat oleh sekop hidrolik besar menjadi produksi truk, yang mengangkut ke tempat pembuangan kontur. Ini dumps ini lingkungan dirancang untuk mencocokkan
daerah sekitarnya.
 Setelah batu taconite terkena, rig pengeboran besar mengebor lubang ledakan 16 "dengan diameter sebesar 40 ' mendalam, dalam beberapa kasus. Hampir 400 dari lubang dibor dalam pola ledakan. Sebelum ledakan itu, lubang diisi dengan campuran khusus dari agen peledakan. Setelah siap, lokasi tambang adalah dibersihkan dari pekerja dan peralatan, dan ledakan yang diledakkan. Setiap lubang adalah diledakkan hanya milidetik terpisah, sehingga tumpukan taconite mentah yang rusak terpisah ke ukuran 6 minus 'x 6'.
Setelah peledakan, sekop wajah hidrolik dan loader yang lebih besar memuat taconite ke-205 ton atau 240-ton produksi truk, yang mengangkut ke crusher. Taconite ini tanah untuk denda
bubuk dan dicampur dengan air. Serangkaian magnet dijalankan melalui campuran. Magnet
ambil partikel besi dan sisanya dibuang. Untuk setiap ton besi dipertahankan, dua ton limbah, atau tailing, yang dibuang.


Penambangan  Pasir  Besi PT JMI Djogjakarta


PENGOLAHAN AWAL BIJIH BESI ? PASIR BESI ?


Pasir besi didapatkan dalam bentuk senyawa dan bercampur dengan kotoran-kotoran lainnya maka sebelum dilakukan peleburan/penghancuran/ crushing, biji besi tersebut terlebih dahulu  harus dilakukan pemurnian untuk mendapatkan konsentrasi biji yang lebih tinggi (25 - 40% Fe).

Pasir  Besi  degan kadar besi (Fe) sekitar 35% – 40% berbentuk besi oksida hematit (Fe2O3)  berwarna  merah , tidak mengandung  magnet  yang  bercampur dengan material ikutan seperti SIO2, Al2O3, CaO, MgO, TiO2, Cr2O3, NiO2, P, S dan H2O




-Proses pemurnian ini dilakukan dengan metode : crushing, grinding, screening, washing  
  (pencucian), dan  Roasting / Pemanggangan.

Pasir  Besi  bermagnet  ( Fe3O4 ) Pasir besi Hitam(Fe3O4 dengan TiOsampai 11%)





Pasir besi & Magnet (Fe3O4)

















The taconite mentah dikirim ke besar gyrator crusher, di mana potongan sama besar dengan lima kaki dikurangi menjadi enam inci atau kurang. Lebih dari 6.000 ton taconite dapat hancur dalam satu jam. Bahan dihancurkan ditransfer oleh sabuk untuk sebuah bangunan penyimpanan bijih, yang
menampung hingga 220.000 ton taconite.
Sebuah pengumpan apron mengirimkan bijih ke konsentrator bangunan untuk grinding,
memisahkan, dan berkonsentrasi.
untuk vidio lengkapnya kalian bisa langsung cek di website resmi vale indonesia DISINI

PROSES PENGOLAHAN

       Bahan baku utama adalah Pasir Besi (Iron Sand), umumnya terdapat di alam Indonesia yang mempunyai kadar besi (Fe) sekitar 35% – 40% berbentuk besi oksida hematit (Fe2O3) dan bercampur dengan material ikutan sepertiSIO2, Al2O3, CaO, MgO, TiO2, Cr2O3, NiO2, P, S dan H2O
Secara umum pasir besi terdiri dari mineral opak yang bercampur dengan butiran-butiran dari mineral non logam seperti, kuarsa, kalsit, feldspar, ampibol, piroksen, biotit, dan tourmalin. Mineral tersebut terdiri dari magnetit, titaniferous magnetit, ilmenit, limonit, dan hematit, Titanife- rous magnetit adalah bagian yang cukup penting, bahan ini merupakan ubahan dari magnetit dan ilmenit. Mineral biji pasir besi tersebut berasal dari batuan basaltik dan andesitik vulkanik, yang sering didapatkan didaerah pesisir pantai dan tepian sungai yang berhubungan dengan gunung berapi.
       Kegunaannya pasir besi ini selain untuk industri logam besi juga telah banyak dimanfaatkan pada industri semen. Pasir besi ini banyak didapat didaerah seperti di Sumatera, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan TimorJadi selama ini para pengusaha tambang hanya mengekspor bahan mentah (raw material) ke negara lain kemudian melalui proses pengolahan hasil produksinya yang berupa Sponge Iron maupun Pig Iron diimpor kembali ke Indonesia yang tentunya sudah dalam harga beli yang berpuluh kali lipat. Disini tidak terdapat nilai tambah bagi negara (Indonesia), tidak ada peningkatan pendapatan potensi daerah, tidak ada penyerapan tenaga kerja dan tidak ada penambahan devisa negara. Dengan dikeluarkan Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2012 tentang peningkatan nilai tambah mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral, bahwa para pemilik/pengusaha tambang tidak diperbolehkan lagi mengekspor bahan mentah/raw material. Dari sini diharapkan para pemilik/pengusaha tambang untuk melakukan kegiatan proses pengolahan atau pemurnian di Indonesia sehingga bisa meningkatkan potensi pendapatan daerah, pembukaan lapangan kerja baru sehingga ada nilai tambah untuk negara Indonesia. Untuk menjembatani terjadinya hubungan yang hilang antara industri penambangan dan industri baja ini, maka dibutuhkan integrasi yaitu iron making industri.


JENIS DAN TYPE KONSENTRAT PASIR BESI
       Untuk menjembatani antara industri penambangan pasir besi dengan industri baja dibutuhkan industri "Iron Making" yang mengolah bahan tambang (raw material), yang mempunyai sumber kandungan tambangnya sangat melimpah di Indonesia, seperti pasir besi (iron sand), bijih besi (iron ore), batubara (coal) dan kapur (lime) atau bentonite dengan proses teknologi permesinan. Industri "iron making" ini akan menghasilkan produk Sponge Iron dan Pig Iron sebagai bahan baku industri baja di Indonesia. Sehingga Indonesia tidak perlu lagi mengimpor Sponge Iron dan Pig Iron lagi dari negara lain.Dengan adanya industri pengolahan Sponge Iron dan Pig Iron di Indonesia dan untuk mendukung Permen ESDM No. 7 tahun 2012, maka hal ini akan menambah potensi pendapatan daerah dan penyerapan tenaga kerja, sehingga secara otomatis akan menambah devisa negara (Indonesia). Perusahaan pengolahan pasir besi berdasarkan Design Engineering yang dimiliki untuk teknologi proses pengolahan iron ore dan iron sand untuk menjadi Sponge Iron dan Pig Iron sudah melalui prosess pengendalian dan prosedur standar ASTM, JIS, DIN, dan SNI. Total Iron (T Fe) minimum 92%, Metalic Iron (M Fe) minimum 86%, Metalizationminimum 94%, Carbon (C) maksimum 2.5%, Sulphure (S) maksimum 2.5%, dan Total Gangue (CaO+AL2O3+MgO+SiO2)maksimum 4.5%.

1. Proses Penghancuran (Crushing
       Bahan baku dalam bentuk pasir dihancurkan sampai ukuran menjadi mesh 10 (2 mm). Hal ini dimaksudkan untuk memperbesar luas permukaan dari material sehingga memudahkan untuk proses selanjutnya.

Mesin Penghancur pasir besi
2.Proses Penghalusan (Grinding)
     Grinding dimaksudkan agar butiran halus pasir besi lebih banyak lagi dapat dipisahkan dengan kotoran atau mineral mineral ikutan yang tidak diinginkan, proses ini sampai menghasilkan ukuran mesh 120 (0,125 mm). Simak cara kerja grinding pada vidio dibawah broh,



3. Proses  Pencucian
       Pencucian dilakukan terhadap pasir besi yang mengandung tanah liat. Pasir besi yang berupa pasir dicuci dengan air, sehingga kotoran-kotoran atau lumpur berpisah. Selanjutnya pasir besi dipisah (disortir). Untuk memisahkan material logam dan non logam pencucianmenggunakan air dalam mesin silinder yang dilapisi magnet, apabila pasir besi banyak mengandung hematit Fe2O3 atau magnetit (Fe3O4) akan berpisah sempurna sehingga kemurnian dari oksida besi meningkat.

Mesin pencucipasir  besi

4. Proses Pemisahan (Magnetic Separator) /screening

       Setelah pasir besi dihancurkan dan digerus, maka akan diperoleh bermacam-macam ukuran partikel. Oleh sebab itu harus dilakukan pemisahan berdasarkan ukuran partikel agar sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan pada proses pengolahan yang berikutnya. Pengayakan adalah proses pemisahan secara mekanik berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam skala industri, sedangkan penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.  
     
Mesin pemisah/Screening besi dengan pengotornya

5. Proses Pemanggangan (Roasting)
       Proses ini dilakukan,dikarenakan pasir besi banyak mengandung bijih hematit (Fe2O3) akan diubah menjadi magnetit (Fe3O4) yang mempunyai daya magnit lebih kuat sehingga akan terpisah antara material yang non magnet dan dihasilkan kadar Fe-nya sampai 65%. Dengan adanya penambahan oksigen ke dalam contoh menjadi oksida

Mesin  Pengering / Roasting



6. Proses Kalsinasi (Rotary Dryer)
       Proses ini bertujuan untuk mengurangi kandungan air dalam material, material dimasukkan kedalam silinder yang berputar dengan arah yang berlawanan dengan jarum jam (counter current).Dan kemudian dihembuskan gas panas dari pembakar sampai temperatur 200-300°C.

Mesin Pengering/Rotary Drying


7.Proses Pembuatan Pelet (Pan Palletizer)
       Sebelum masuk ke alat ini, pasir besi dicampur di dalam alat mixer agitator dengan komposisi tertentu ditambahkan batubara dan binder bentonitdengan tujuan agar konsentrat besi oksida halus dapat merekat membentuk gumpalan-gumpalan (aglomerisasi yang disebut pelet basah (green pellet)yang mempunyai kekuatan yang cukup kuat, untuk dapat dibawa ke proses selanjutnya. Sedang batubara fungsinya untuk meningkatkan kadar karbon dengan cara proses reduksi dari internal pada proses selanjutnya.Prinsip kerja dari alat ini adalah proses aglomeri-sasi konsentrat bijih besi yang telah bercampur batubara dan binder bentonit dimasukkan secara kontinyu kedalam mesin pelletizingyang berbentuk setengah drum/bejana yang berputar dengan kecepatan dan sudut kemiringan tertentu sambil disemprotkan air secara kontinyu.

Proses agglomerasi pasir besi 


 PENJELASAN PROSES AGLOMERASI PADA BIJIH BESI

  1. Biji besi dihancurkan menjadi partikel-partikel halus (serbuk).
  2. Partikel-partikel biji besi kemudian dipisahkan dari kotoran-kotoran dengancara pemisahan magnet (magnetic separator) atau metode lainnya.
  3. Serbuk biji besi selanjutnya dibentukmenjadi pelet hijau (pelet basah) berupa bola-bola kecil berdiameter antara 12,5 - 20 mm. (Proses pelletizing adalah proses aglomerasi/penggumpalan konsentrat biji besi/mineral yang berukuran halus menjadi partikel berbentuk  kelereng dengan ukuran 10 sampai 25 mm.
  4. Tujuan utama dari tahap pemeletan/pelletizing adalah membentuk partikel dengan ukuran tertentu agar mudah dipindahkan dan memiliki sifat-sifat yang dapat memenuhi kebutuhan sifat metalurgis.
  5. Pelet hasil dari aglomerasi disebut sebagai pelet basah/green pellet.
  6. Sedangkan indurasi adalah proses pemanasan terhadap produk hasil aglomerasi dengan temperatur 1200°C, yang disebut sebagai pelet bakar/pelet kering/besi spons.
  7. Tujuan utama dari indurasi/pengovenan adalah untuk mendapatkan pelet yang memiliki sifat- sifat metalurgis seperti : mekanik/kekuatan, dan sifat reduksi. Kekuatan diperlukan agar pelet tahan terhadap beban mekanik selama  proses berikutnya. Sedangkan sifat reduksi diperlukan untuk mempermudah terjadinya proses reduksi selama pembuatan besi spons.
  8. Pada tahap ini terjadi reaksi antara oksigen yang dikandung dalam senyawa udara terdapat di dalamgreen pellet / pelet basah. Kandungan air dan senyawa-senyawa yang mudah dibakar akan terlepas. Dengan oksigen berlebih ini, mineral besi yang semula magnetite  (Fe3O4) dapat berubah menjadihematite (Fe2O3). Setelah tahapan indurasi/pengovenan/pemanasan ini akan dihasilkan pelet yang memiliki sifat-sifat metalurgis yang dibutuhkan.
  9. Terakhir, pelet pasir besi dipanaskan melalui proses sinter/pemanasan hingga temperatur 1200°C agar pelet tersebut menjadi keras dan kuat, sehingga tidak mudah rontok.

Besi Spons/Sponge Iron, produk PT Meratus Jaya Iron & Steel, Kalsel

       Sponge Iron (besi spons) adalah produk setengah jadi / intermediate yang mempunyai kandungan besi (Fe) minimum 90%, berbentuk bola-bola dengan diameter 12 mm dengan kekuatan tekan 250 MPa (25 kg/mm2) dipakai sebagai bahan baku/dasar industri baja yang berbasis proses asam dicampur dengan besi skrap/bekas/rosokan dan diproses di dapur listrik yang menghasilkan baja.Sponge Iron juga dikenal sebagai besi tereduksi langsung, adalah produk yang dihasilkan dari biji besi. Biji besi ini sering dalam bentuk pelet atau bulatan, dan mengacu kepada proses reduksi yang dibuat dengan menggunakan gas pengurang yang dipancarkan dari batubara atau sumber gas alam. Sponge Iron dapat diproduksi dalam beberapa jenis tungku, termasuk oven kokas atau arang, tungku ledakan, dan tungku oksigen dasar.

Besi  Spon / Sponge Iron
BajaKasar/Besi Kasar /Pig  Iron



 Seperti pabrik baja yang ada di indonesia: PT. Krakatau Steel, PT. Ispatindo Pig Iron (bajakasar) adalah produk setengah jadi /intermediate yang mempunyai kandungan baja (Fe3C)  95 % dengan kandungan karbon 5 %, berbentuk batangan dipakai sebagai bahan baku/bahan dasar industri baja yang berbasis proses basa dicampur dengan besi skrapproses peleburan iniakan menghasilkan baja. Demikian juga pabrik baja lainnya di Indonesia seperti PT.Hanil Jaya dan industri baja milik swasta lainnya.Tidak diperbolehkan lagimengekspor bahan mentah,diharapkan para pengusaha tambang pasir besi untukdapatmelakukan kegiatan proses pengolahan / pemurnian di Indonesia, sehingga bisa ikut meningkatkan potensi pendapatan daerah, pembukaan lapangan kerja baru sehingga ada nilai tambah untuk negara. Untuk menjembatani terjadinya salah pengertian (missing link) antara industri  pertambangan (mining industri) dan industri  baja (steel industri) ini dibutuhkanintegrasi /pengggabungan yaitu perusahaan  baja (iron making industri); dan sudah ada perusahaan  yang hadir di Indonesia untuk memberikan solusi sehingga missing link tadi tidak akan terjadi lagi. Sponge Iron digunakan pabrik baja yang ada di Indonesia seperti PT. Krakatau Steel dan PT. Ispatindo.Pig iron digunakan pabrik baja di Indonesia seperti PT. Hanil Jaya dan industri baja swasta lainnya. Kebutuhan kedua jenis bahan baku tersebut berdasarkan seluruh kebutuhan pabrik baja di Indonesia baik BUMN maupun swasta adalah sekitar 7,6 juta metrik ton pertahunnya dan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan baja di Indonesia maupun di dunia. Selama ini kedua jenis bahan baku tersebut untuk kebutuhan industri baja di Indonesia masih diimpor dari negara China, India, Brazil dan lain-lain. Padahal bahan baku untuk memproduksi Sponge Iron maupun Pig Iron sangat melimpah di negeri ini , seperti pasir besi (iron sand) atau biji besi (iron ore), batu bara (coal) dan kapur/bentonite.

KEGUNAAN SPONGE IRON
       Ada beberapa manfaat yang terkait dengan Besi Spon / Sponge Iron yang memungkinkan untuk bersaing secara efektif dengan jenis lain dari besi lebur. Industri juga harus melakukannya dengan komposisi aktual dari produk akhir itu sendiri. Sebagai contoh, jenis baja ini dianggap lebih kaya dari baja kasar /pig iron, jenis lain dari baja umumnya dihasilkan dalamblast furnace. Baja yang tereduksi langsung memiliki kandungan baja yang sedikit lebih tinggi, yang sering sekalimembuatnya lebih cocok untuk digunakan dalam tanur listrik. Selain itu, gas yang dipancarkan selama produksi besi spons dapat diambil dan digunakan dalam berbagai aplikasi lain. Ini hasil sampingan dari proses pembuatan baja membantu untuk mengimbangi biaya produksi baja, serta bantuan dalam menjaga proses lain yang memerlukan gas untuk produksi yang tepat.Sponge Iron juga dapat digunakan untuk menghasilkan biji besi bubuk yang bekerja sangat baik dan bila dicampur dengan logam lain dalam produksi berbagai jenis baja berbasis produk.


Pemotongan  Besi  Spon / Sponge  Iron  yang berbahan dasar  Pasir  Besi

Sekalian ditotonton gimana kalo sponge iron dipotong, biar lupade pada percaya 


CONCENTRATTING
 
The taconite mentah sekarang seukuran bola atau lebih kecil. Serangkaian conveyor sabuk terus memberi makan bijih menjadi sepuluh besar 27 kaki-diameter, semi-autogenous primer
grinding pabrik. Air ditambahkan pada titik ini untuk mengangkutnya (94 persen air didaur ulang, sedangkan sisanya hilang melalui penguapan). Setiap pabrik utama berisi beberapa 4 bola baja "yang menggiling bijih sebagai giliran pabrik. Ketika bijih dikurangi menjadi 3/4 "atau kurang, bergerak keluar dari pabrik dalam larutan bubur. Pabrik debit yang diputar di 1/4 "di layar tambur melekat ke pabrik Ore lebih kecil dari. 1/4 "dipompa dalam larutan lumpur ke pemisah cobber basah magnetik, yang dimulai Proses pemisahan besi dari bahan non-besi. Bijih besi magnet ini kemudian
dicuci dalam dua tangki bubur lonjakan sedangkan non-magnet (silika / pasir) pergi ke
tailing daerah pembuangan.

Sebagian besar materi terus menjadi ditumbuk halus dalam salah satu dari lima pabrik bola sekunder, yang didukung oleh motor listrik mulai dari 2.500 hp menjadi 4.000 hp dan dibebankan
dengan 1-1/2 "krom grinding bola halus grinding. dicapai menggunakan pabrik kecil, membawa bijih ke menggiling sama seperti yang ditemukan dalam bedak. The terlalu kecil layar kemudian pindah ke hydroseparators, di mana silika melayang dari atas.

The underflow hydroseparator adalah dipompa ke finisher magnetik pemisah. Sekali lagi, yang magnetik pemisah ambil besi dan membuang silika dan pasir. Dengan demikian, bijih adalah
"Terkonsentrasi" dengan menghapus limbah bahan. Konsentrat dari pemisah dipompa untuk fine
skrining. Bahan kebesaran dikembalikan ke pabrik bola, sementara terlalu kecil (Dengan kotoran yang paling dihapus) menjadi konsentrat akhir. Limbah dari sirkuit pergi ke tailing baskom dan perjalanan konsentrat akhir untuk pengental terletak di pelet tanaman. The underflow dari
pengental dipompa ke penyimpanan tangki dan kemudian ke disk untuk filter dewatering.

Produk ini disebut "blotong", dan sekarang siap untuk pencampuran dengan Bahan pengikat.
Pencampuran dengan Agen Binding Setelah kue filter selesai, itu adalah disimpan ke dalam bin gelombang. Kemudian perjalanan ke sabuk pengumpan dan dari ada ke conveyor di mana bentonit, sebuah bonding agent, ditambahkan. Bentonit adalah tanah liat dari Wyoming digunakan untuk membantu bijih besi berkonsentrasi tetap bersama-sama ketika digulung menjadi
pelet. Sekitar 16 pon Bentonit ditambahkan untuk setiap ton konsentrat bijih besi.
Sejumlah kecil dari batu kapur (1%) juga ditambahkan dan dicampur dengan konsentrat pada
titik ini. Kapur ditambahkan untuk memenuhi persyaratan pelanggan baja di
blast furnace proses.Konsentrat bijih besi kini dicampurdan siap untuk proses pelletizing.

PELLETIZING

Sebuah pabrik pelet berisi serangkaian drum balling mana konsentrat bijih besi terbentuk
menjadi pelet yang lembut, dalam banyak cara yang sama bahwa salah satu gulungan bola salju, untuk membuat pelet tentang ukuran kelereng (antara 1/4 "dan 1/2"). Pelet disaring untuk memenuhi ukuran spesifikasi, dengan berukuran atau pelet kebesaran hancur dan kembali ke balling
drum.

Pelet lunak kemudian dikirim ke pengumpan rol untuk menghilangkan akhir dari denda, yang
juga kembali ke sirkuit balling. Sekarang pelet yang lembut, benar ukuran, disampaikan
ke tungku perapian bepergian untuk lebih lanjut pengeringan dan pemanasan awal. Grate dipecat oleh gas alam. Dari titik ini, pelet dibebankan ke dalam rotary kiln besar di mana mereka heathardened pada 2.400 derajat Fahrenheit. Pelet yang dibuang ke bergulir dingin dan kemudian pindah ke pelet skrining tanaman, ke pelet loadout sistem. Seluruh proses mengkonsumsi energi dalam bentuk listrik dan gas alam. Selama masa lalu beberapa tahun, jutaan dolar telah
telah dihabiskan untuk meningkatkan efisiensi energi dan untuk menutup limbah panas dan kembali menggunakannya dalam proses. Upaya ini harus secara signifikan mengurangi pengeluaran
energi.

Proses pelletizing sekarang telah selesai. Pelet dijalankan melalui akhir penyaringan untuk menghapus spesifikasi ukuran tidak memenuhi atau mereka yang terkelupas atau dipecah menjadi denda. Pelet yang memenuhi standar yang diperlukan disampaikan kepada pelet stockpile, yang memegang sekitar 30.000 ton. Pellet loadout dan Pengiriman Pelet sekarang siap untuk pengiriman dengan kereta api ke pelanggan atau dermaga bijih. Mereka dikirim untuk ledakan tungku dan pabrik baja, di mana mereka akan berubah menjadi baja jadi.Sebuah sekereta api pelet bijih besi
terikat untuk blast furnace Besi baja nasional Pelet Perusahaan pelet bijih memiliki karakteristik sebagai berikut
(FOB Tambang):
Jumlah Besi: 65.85%
Silika (SiO2): 4,5%
Kapur (CaO): 0,68%
Fosfor: 0.010
Ukuran:% +1 / 4 "96,5% (setelah jatuh)
Kompresi Kekuatan: £ 560

Sebagai wawasan tambahan bro, jangan lupa disimak artikel lainnya dari kumpul-bacaan
artikel pengolahan bijih emas
pengolahan bijih mengandung emas part 1
pengolahan bijih mengandung emas part 2

pengolahan bijih mengandung emas part 3

pengolahan bijih mengandung emas part 4

artikel pengolahan bijih tambang lainnya diindonesia
artikel pengolahan bijih tembaga (secara hydrometalurgi)
artikel pengolahan bijih tembaga (secara pyrometalurgi)
artikel pengolahan bijih mangan
artikel pengolahan bijih alumunium
artikel pengolahan bijih galena
artikel pengolahan bijih besi dan pasir besi
Penulis adalah Widyaiswara pada Departemen Mesin dan CNC  PPPPTK BOE Malang

2 komentar

Komentar yang baik atau diam!
EmoticonEmoticon