Selasa, 08 Maret 2016

Istriku, semoga surga masih menjadi tujuanmu

Brobro..
Kali ini kite bakalan cerita syediih mengenai permasalahan yang kian tak berujung,yakni mengenai istri modern masa kini..yang tentunya banyak terjadi dimasa ini, dan pastinya ceritanya nyata loh..aseli notiputipu

Sebut saja raisha namanya,
Memang dia kekasih yang selalu kupuja dan kucinta setiap harinya. Tak ada sedetikpun lepas darinya, seolah kamipun sudah bersama sejaklama, meskipun sebenarnya kamipun belum berumahtangga..
Waktu berlalu, semakin cepat berlalu, dan tak terasa kamipun benar benar berumah tangga.


Benar kata orang, sifat kekasih yang puluhan tahun kita kenal akan berubah dengan sebenarnya. Entah salah atau tidak bercerita tentang masalah ini, karena ketika akal sehat  menghampiri, berumahtangga yang artinya harus menerima seluruh jiwa & raga satu sama lainnya.
Namun ketika akal jahat menghampiri,
Sudah waktunya untuk menceritakan seluruh aib ini, dengan harapan banyak calon istri yanh menyadari arti sebenarnya seorang istri.

Pada awal rumah tangga, memang semua terasa seru, rencana berlalu begitu detail dan sempurna seolah kamipun mampu menjalaninya sampai akhir cerita yang pastinya sudah dirancang indah.

Ia berkerja dan akupun bekerja, kesibukan kami tak hentihentinya berakhir, pergi pagi, pulang petang, begitu setiapharinya dan diakhir weekend selalu terasa menyenangkan ketika kita bersama meski hanya dirumah kontrakan yang kecil, kumuh, kotor, areal cibubur, jakarta.

Setahun berlalu, dan sekalilagi terasa begitu  cepat tanpa hasil yang diharapkan. sepertinya terfikir tak mungkin berkerja seperti ini sampai selamanya, penghasilan yang selalu pas dengan kebutuhan, kemacetan yang tiada akhir, emosi yang selalu meluap, tikus yang selalu merusak rumah tentunya menjadi alasanku memilih pekerjaan diluar kota dengan harapan tabungankan semakin banyak dan cepat menggapai rencana kami.
Dan syukurnya akupun diterima perusahaan pertambangan yang memang bisa dikatakan penghasilan yang jauh lebih baik dibanding bidang lainnya, apalagi dengan pengalaman yang minim.

Singkat cerita, diapun menyetujui pekerjaanku yang baru dengan sistem kerja 35hari onsite 14hari libur. Awalnya memang terasa sangat menyenangkan, ditambah penghasilan yang berlimpah membuat gaya hiduppun mulai berubah. Baru benerapa tahun baerlalu kamipun sudah memiliki 2 rumah, yakni dibilangan depok dan tasikmalaya.  Waktu semakin berlalu, berjalan tiada henti yang tanpa disadari kamipum belum memimirkan keturunan dibanding perencanaan.

Dengan gaya hidup yang semakin berubah, akupun merasa iba terhadap hiduku sendiri, yangmana berbulanbulan jauh dari istri dan ketika pulang takkan bisa lama bercengkrama dengannya karena ia pun tetap masih memilih bekerja, ditinggal dirumah sendiri, tanpa masakan, tanpa apaupun seolah selalu belajar menghargai alasan dibalik kesibukan yang dulakukan sang istri.

Waktu berlalu, lagilagi semakin cepat dan banyak yang terlewatkan, kuputuskan untuk berkerja sendirian dan pindah ke tasikmalaya dengan harapan akhak istri yang akan berubah dikota santri ini, dan mungkin sulit memiliki keturunan akibat ia yang selalu tertatih dalam bekerja.

Namun seperti ada yang berbeda dengan hati ini, melihatnya kesepian dirumah tanpa kegiatan rasanya kasihan dan selalu mendorong melakukan kegiatan untuk mengiai kekosongan hari yang selalu dilewatkan selama menungguku berkerja sebulanan..dan ternyata itupun hanya sementara

Sepertinya, lagilagi pergaulan yang masih kusalahkan, pergaulan modern yang sudah memasuki berbagai pesolok, seolah menyediakan pembelokan tulang rusuk yang memasuki 360 derajat.

Pekerjaan yang semakin berat, tekanan yang semakin tinggi, persaingan yang semakin ketat seolah membuat emosikupun sering meluap kembali, dan selalu berharap semua kekesalan yang ada dalam pekerjaan akan sirna ketika pulang. ketika hari libur datang, selalu harapan yang ada istri akan melayani sebagai layaknya seirang isri melayani suaminya baik lahir maupun batin.

Tapi berkalikali kuperhatikan sepertinya sang istripun semakin malas mengurus hidup suaminya sendiri, makan selalu diluar, sayapun selalu mencuci baju sendiri sama dan masihsama seperti halnya dulu, ketika ia masih sibuk bekerja namun bedanya kini tak pernah lepas dari handponnya yang update setiap kemanisan dan keharmonisan kami. Seolah memperlihatkan rumahtangga yamg ceria padahal akupun menderita

Semakin hari semakin malas memperlakukanku sebagai suaminya, meskipun liburku yang hanya semakin sebentar, toh tetap seolah digunakan sebagai mesin pencetak uang, meskipun kupun selalu berharap dan berfikir jernih setiap yang kulakukan hanya umtuk menafkahinya.  Tanpa sekalipun berfikir tidak semestinya.

Jikalau dilihat, dimedsos, dia yang selalu share tentang masakan rumahan yang enak untk keluarga, padahal gas dirumahpun dibiarkan berbulanbulan kosong tanpa isi. Dan masak untukkupun bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Padahal dirumahpun aku jarang bin..

Sedih memang bukan main, libur yang selalu ditunggu disaat kerja onsite, dengan harapan dia akan berubah, mengerti apa yang diinginkanku, kecil memang, hanya sebuah masakan rumah dan baju yang dicuci lalu distrika ituupun takpernah dilakukannya. Selalu ada alasan tidak melakukannya, sibuk olahraga, sibuk bersilaturahmi, tak tersedia strika baru, mesin cuci yang masih 2tabung, air pam yang loyo, dankupun takhentinya selalu masak dan mencuci sendiri dengan pakaian yang kucel setiap digunakan.

Dia yang selalu menuntut liburan, barang baru yang ga jelas kebutuhannya. Baju dan sepatu yang selalu baru,  yang tak pernah sadar penghasilan kami yang tidak seperti dulu, tak pernah mengerti kebutuhan yang selalu meningkat setiap bulannya, dan kebutuhan riba yang tak terasa mencekik terus menerus, memang benar kata rasul umat islam, bahwa riba akan mencekik dan membuat hidup terus gelisah seolah membuat jikalau tak terus berkerja  riba ga akan pernah selesai pelunasannya.

Entah siapa yang harus dipersalahkan, memarahi dan menegaskan istri paling sering sudah kulakukan tapi yang nyatanya hanya bertahan palinglama sehari lamanya, semakin hari semakin berani melawanku, semakin berani mencela masukan yang jelasjelas baik untuknya, dan lagilagi gaya hidup yang takkan mau berubah. Mencoba menakuti untuk berpaling, sudah tak terhitung kulakukan yang seolah iapun takpernah takut kehilanganku.

Jelas memang menyedihkan hidup ini, seolah tak dihargai sebagai suami namun, dilain hal, menafkahinya adalah urusanku selama terus hidup bersamaku. Sebenarnya banyak hal yang ingin dijelaskan namun aib ini memang tak seharusnya dijelaskan secara detail.

Kudoakan semoga ia masih menginginkan surga diakhir ceritanya, karena dalam agama kami, mengurusi keluargapun sang istri sudah terjamin masuk surga dari berbagai pintu manapun.

Semoga kisah ini, menjadi masukan buat kalian para wanita modern yang tak sadar akan kesalahan yang terus menerus dilakukan, terusmenerus dilanjutkan dan takmau melihat dari sisi lain.

Share aja broh biat semakin banyak yang baca yeah! Semoga kebaikan selalu dalam lindungan kita



Komentar yang baik atau diam!
EmoticonEmoticon